Manusia sanggup menanggung penderitaan yang paling kejam, tetapi hanya sedikit yang sanggup berdiri di hadapan dirinya sendiri tanpa mencari alasan untuk membenarkan kesalahan. Sebab, kebenaran sering kali lebih menyakitkan daripada hukuman, dan kebohongan terasa begitu menenangkan ketika hati tak lagi memiliki keberanian untuk mengakui dosa-dosanya sendiri. Pada mulanya, seseorang berbohong demi menyelamatkan harga dirinya. Ia memutarbalikkan kenyataan, menyalahkan keadaan, dan menuduh dunia sebagai penyebab kehancurannya. Namun, perlahan-lahan, kebohongan itu tumbuh menjadi keyakinan. Ia tidak lagi sekadar menipu orang lain, melainkan membangun penjara di dalam pikirannya sendiri, lalu menyebut penjara itu sebagai kebebasan. Betapa mengerikannya nasib manusia yang kehilangan kemampuan untuk meragukan dirinya sendiri. Sebab, selama seseorang masih mampu bertanya apakah dirinya bersalah, masih ada secercah harapan bagi jiwanya. Tetapi ketika ia menganggap setiap kebohongannya sebagai k...