Mengikhlaskan membantu otak melepaskan keterikatan emosional terhadap hal-hal yang tidak bisa dikendalikan. Dalam psikologi kognitif, proses ini berkaitan dengan acceptance, yaitu kemampuan menerima realitas tanpa terus-menerus melawannya secara mental. Ketika perlawanan internal berhenti, beban stres menurun, dan sistem saraf mulai kembali ke kondisi seimbang. Secara neuropsikologis, penerimaan menurunkan aktivitas berlebihan pada amigdala dan jaringan stres, serta mengurangi rumination—pola mengulang pikiran yang memicu kecemasan dan kelelahan mental. Dengan melepaskan dorongan untuk mengontrol segalanya, otak menghemat energi kognitif dan memberi ruang bagi ketenangan, kejernihan, serta pemulihan emosional. Dalam jangka panjang, kemampuan mengikhlaskan memperkuat ketahanan mental dan regulasi emosi. Hidup menjadi lebih ringan bukan karena masalah hilang, tetapi karena diri berhenti menanggung beban yang seharusnya dilepaskan. Di titik ini, ketenangan bukan datang dari kepemilikan, melainkan dari pelepasan. Referensi: • Hayes — Acceptance and Commitment Therapy (ACT) • Gross — Emotion Regulation • Kabat-Zinn — Mindfulness and Stress Reduction • APA — Acceptance and Psychological Well-being
Mulai belajar untuk "tidak terikat" melepaskan kepemilikan karena sifat yang sementara.
Komentar
Posting Komentar