Overthinking menciptakan masalah palsu dengan memperpanjang respons stres terhadap hal yang belum tentu terjadi. Dalam psikologi kognitif, pola ini dikenal sebagai anticipatory anxiety, yaitu kecemasan yang muncul dari skenario hipotetis yang dibangun pikiran. Otak bereaksi seolah ancaman itu nyata, memicu ketegangan emosional, padahal sumbernya hanyalah prediksi yang belum tentu benar. Secara neuropsikologis, overthinking melibatkan aktivitas berlebihan pada default mode network (DMN) yang berkaitan dengan refleksi diri dan simulasi masa depan. Ketika tidak terkontrol, jaringan ini memicu rumination—pengulangan pikiran negatif yang membuat otak terjebak dalam lingkaran kekhawatiran tanpa solusi. Akibatnya, energi mental habis untuk memikirkan kemungkinan, bukan menghadapi realitas. Dalam jangka panjang, overthinking dapat meningkatkan risiko kecemasan, kelelahan mental, dan gangguan tidur. Mengalihkan fokus pada pengalaman nyata, aktivitas fisik ringan, atau observasi lingkungan membantu otak keluar dari siklus ini. Di titik itu, pikiran kembali berpijak pada realitas, bukan terperangkap dalam masalah yang diciptakannya sendiri. Referensi: • Nolen-Hoeksema — Rumination and Mental Health • Beck — Cognitive Therapy and Anxiety • Raichle et al. — Default Mode Network • APA — Overthinking and Anxiety Disorders

Sebagaimana film lama "Bad day pasti berlalu"



 

Komentar

Postingan populer dari blog ini