Paradoks emosi manusia menunjukkan bahwa ekspresi terdalam sering kali muncul dalam bentuk yang berlawanan. Dalam psikologi, ini berkaitan dengan emotional overflow—kondisi ketika intensitas emosi terlalu tinggi sehingga otak menyalurkannya melalui respons yang paling mampu menstabilkan sistem saraf. Tertawa saat sedih atau menangis saat bahagia dijelaskan melalui affective release. Ketika emosi memuncak, tubuh membutuhkan pelepasan fisiologis: tangis menurunkan ketegangan saraf, sementara tawa bisa menjadi mekanisme pertahanan untuk mencegah runtuhnya emosi. Sedangkan diam pada kemarahan sering menandakan emotional inhibition, yaitu fase ketika seseorang menahan respons impulsif karena otak sedang berusaha mengontrol potensi kerusakan sosial atau personal. Penelitian menunjukkan bahwa ekspresi emosi tidak selalu linear atau logis. Pada intensitas tertentu, otak lebih memprioritaskan regulasi daripada ekspresi yang “sesuai”. Itulah sebabnya emosi terdalam sering terlihat membingungkan bagi orang lain. Memahami paradoks ini membantu kita lebih empatik—baik pada diri sendiri maupun orang lain—karena tidak semua tawa berarti bahagia, tidak semua tangis berarti lemah, dan tidak semua diam berarti tidak peduli. Referensi: Gross, J. — Emotion Regulation Theory Freud, S. — Defense Mechanisms & Emotional Displacement Ekman, P. — Emotional Expression & Suppression APA — Studies on Emotional Intensity and Regulation
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini