Dalam hubungan apa pun—romantis, keluarga, ataupun pertemanan—ketidakjelasan sering memunculkan salah paham, kecemasan, dan jarak emosional. Ketika dua orang hanya mengandalkan tebakan atau asumsi, mereka sebenarnya membangun hubungan di atas interpretasi pribadi, bukan kenyataan. Menurut penelitian yang diterbitkan oleh Journal of Social and Personal Relationships, komunikasi terbuka merupakan salah satu prediktor terbesar dari kepuasan dan kestabilan hubungan. Pasangan atau individu yang mampu menyampaikan kebutuhan, batasan, dan perasaannya secara jelas cenderung memiliki konflik yang lebih sehat dan dapat diselesaikan dengan cepat. Sebaliknya, hubungan yang dipenuhi “silent expectations” sering berakhir dengan frustrasi karena setiap pihak merasa tidak dimengerti. Selain itu, studi dari The Gottman Institute menunjukkan bahwa kejelasan komunikasi menurunkan tingkat defensiveness dan meningkatkan empati. Ketika seseorang merasa aman untuk berbicara, kualitas hubungan meningkat karena kedua pihak memahami fakta sebenarnya, bukan asumsi yang diperbesar oleh kecemasan. Kejelasan bukan hanya tentang bicara, tetapi tentang keberanian untuk jujur, mendengar aktif, dan menyampaikan perasaan dengan cara yang tidak menyakiti. Referensi: • Journal of Social and Personal Relationships — Communication & Relationship Satisfaction • The Gottman Institute — Principles of Healthy Communication • American Psychological Association — Miscommunication & Emotional Well-Being • Markman, H., & Stanley, S. — Relationship Communication Dynamics

Ketika hubungan terjalin begitu lama sering lebih rumit untuk diungkapkan secara jujur. Lebih mudah untuk apa yang terpenting untuk diungkap secara jujur, karena perasaan sering tidak bisa dipertimbangkan berdasarkan logis atau tidak logis, masuk akal atau tidak bahkan matang ataupun kekanakan. Sering ada inner child yang mendasari.


 

Komentar

Postingan populer dari blog ini