Dalam psikologi klinis, kondisi ini berkaitan dengan emotional adaptation dan emotional numbing, yaitu mekanisme bertahan saat sistem saraf terlalu lama berada dalam tekanan. Ketika emosi intens terus-menerus hadir tanpa ruang pemulihan, otak memilih menurunkan sensitivitas sebagai cara melindungi diri. Akibatnya, seseorang tampak “baik-baik saja”, bukan karena benar-benar pulih, tetapi karena sudah kelelahan untuk terus merasakan. Pola ini juga beririsan dengan allostatic load dan stress habituation. Paparan stres berkepanjangan membuat tubuh menyesuaikan diri pada level kelelahan baru, sehingga respons emosional menjadi tumpul. Dalam fase ini, individu tetap berfungsi secara sosial, namun kehilangan kedalaman rasa—senang tidak sepenuhnya terasa, sedih pun tidak lagi tajam. Mati rasa menjadi strategi bertahan, bukan tanda kekuatan. Penelitian menunjukkan bahwa adaptasi emosional membantu seseorang melewati fase sulit, tetapi jika berlangsung terlalu lama dapat menghambat pemulihan psikologis. Proses kembali merasakan emosi sering membutuhkan istirahat mental, rasa aman, dan validasi. Mati rasa bukan berarti sembuh—ia hanya penanda bahwa sistem emosional sedang meminta jeda. Referensi: McEwen, B. S. — Stress, Allostasis, and Adaptation American Psychiatric Association — Emotional Numbing and Stress Response Van der Kolk, B. — The Body Keeps the Score Gross, J. J. — Emotion Regulation Theor

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini