Dalam psikologi sosial, pemberian sering kali tidak netral secara emosional. Fenomena ini dikenal sebagai norm of reciprocity—dorongan tak sadar untuk membalas ketika menerima sesuatu. Masalah muncul ketika pemberian digunakan sebagai alat kontrol, membuat penerima merasa berutang secara berlebihan, bahkan pada hal-hal yang melampaui kapasitas atau kehendaknya sendiri. Situasi ini berkaitan dengan emotional debt dan manipulative helping. Ketika bantuan disertai ekspektasi tersembunyi, relasi berubah dari ketulusan menjadi transaksi psikologis. Otak penerima merasakan tekanan moral, bukan rasa syukur yang sehat. Inilah yang sering membuat seseorang merasa “nggak enakan”, meskipun tidak pernah menyepakati kewajiban sebesar itu. Penelitian menunjukkan bahwa bantuan yang sehat memberi ruang bagi pilihan bebas, bukan rasa terikat tanpa batas. Rasa terima kasih tidak sama dengan kehilangan otonomi. Menerima kebaikan tidak otomatis berarti menyerahkan kendali hidup atau perasaan kepada pemberinya. Menghargai tetap penting, tetapi batas diri tetap perlu dijaga. Referensi: Gouldner, A. W. — Norm of Reciprocity Cialdini, R. B. — Influence and Social Obligation Baumeister, R. F. — Autonomy, Guilt, and Social Pressure APA — Healthy Relationships and Boundaries
PT PepsiCo Indonesia resmi mengoperasikan pabrik barunya di Kawasan Industri GIIC, Cikarang, Bekasi, pada 18 Juni 2025. Pabrik ini dibangun di atas lahan seluas 60.000 meter persegi dengan investasi sebesar 200 juta dolar AS atau setara Rp3,3 triliun. Sejak mulai produksi pada Januari 2025, fasilitas ini telah menyerap hampir 400 tenaga kerja dan mengoperasikan tiga lini produksi dengan kapasitas 24.000 ton per tahun. Produk andalan seperti Cheetos, Lays, dan Doritos kini kembali diproduksi secara lokal menggunakan bahan baku dari petani dalam negeri. CEO PepsiCo Indonesia, Asif Mobin, menyatakan bahwa investasi ini mencerminkan komitmen jangka panjang perusahaan di Indonesia. Pemerintah melalui Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza pun menyambut positif kehadiran pabrik ini karena berkontribusi terhadap penguatan industri makanan dan minuman nasional, penciptaan lapangan kerja, serta keberlanjutan ekonomi lokal. Pada triwulan I 2025, industri makanan dan minuman menyumbang 41,15 per...
Komentar
Posting Komentar