Dalam psikologi sosial, pemberian sering kali tidak netral secara emosional. Fenomena ini dikenal sebagai norm of reciprocity—dorongan tak sadar untuk membalas ketika menerima sesuatu. Masalah muncul ketika pemberian digunakan sebagai alat kontrol, membuat penerima merasa berutang secara berlebihan, bahkan pada hal-hal yang melampaui kapasitas atau kehendaknya sendiri. Situasi ini berkaitan dengan emotional debt dan manipulative helping. Ketika bantuan disertai ekspektasi tersembunyi, relasi berubah dari ketulusan menjadi transaksi psikologis. Otak penerima merasakan tekanan moral, bukan rasa syukur yang sehat. Inilah yang sering membuat seseorang merasa “nggak enakan”, meskipun tidak pernah menyepakati kewajiban sebesar itu. Penelitian menunjukkan bahwa bantuan yang sehat memberi ruang bagi pilihan bebas, bukan rasa terikat tanpa batas. Rasa terima kasih tidak sama dengan kehilangan otonomi. Menerima kebaikan tidak otomatis berarti menyerahkan kendali hidup atau perasaan kepada pemberinya. Menghargai tetap penting, tetapi batas diri tetap perlu dijaga. Referensi: Gouldner, A. W. — Norm of Reciprocity Cialdini, R. B. — Influence and Social Obligation Baumeister, R. F. — Autonomy, Guilt, and Social Pressure APA — Healthy Relationships and Boundaries



 

Komentar

Postingan populer dari blog ini