Empati afektif adalah kemampuan untuk ikut merasakan emosi orang lain secara langsung, seolah-olah perasaan itu menjadi milik sendiri. Dalam psikologi, ini berkaitan dengan resonansi emosional, di mana otak mengaktifkan jaringan saraf yang sama seperti saat kita mengalami emosi tersebut. Karena itu, melihat orang lain terluka dapat memicu rasa sakit, sedih, atau cemas yang nyata di dalam diri. Sebaliknya, empati kognitif adalah kemampuan memahami apa yang dirasakan orang lain tanpa harus ikut tenggelam dalam emosinya. Proses ini melibatkan perspective-taking, yaitu kapasitas untuk melihat situasi dari sudut pandang orang lain secara rasional. Empati jenis ini memungkinkan seseorang tetap peduli, namun menjaga jarak emosional agar bisa berpikir jernih dan memberi respons yang lebih tepat. Keseimbangan antara empati afektif dan empati kognitif penting untuk kesehatan mental. Terlalu dominan empati afektif dapat menyebabkan kelelahan emosional dan compassion fatigue, sementara empati kognitif tanpa kehangatan emosional bisa terasa dingin dan kurang manusiawi. Di titik seimbang, empati menjadi kekuatan: mampu memahami, merasakan secukupnya, dan tetap menjaga stabilitas diri. Referensi: • Decety & Jackson — The Functional Architecture of Human Empathy • Baron-Cohen — The Science of Empathy • Batson — Empathy and Altruism • APA — Empathy in Psychology
Komentar
Posting Komentar