Ini bukan lagi bentuk penyesalan, melainkan upaya menjaga kenyamanan diri sendiri tanpa benar-benar memperbaiki perilaku. Kata “maaf” dipakai sebagai alat meredakan konflik, bukan komitmen untuk berubah. Dalam studi psikologi hubungan, pola ini termasuk cycle of pseudo-remorse—siklus ketika seseorang berjanji untuk berubah, tetapi tetap mengulangi tindakan yang sama. Penelitian menunjukkan bahwa orang dengan pola ini cenderung menggunakan emosi, kata-kata manis, atau merendah untuk menghindari tanggung jawab. Mereka meredam tegangan sesaat, namun tidak membangun perubahan jangka panjang. Dampaknya, pihak yang peduli justru kelelahan secara emosional karena merasa diminta memahami terus-menerus. Mengenali pola seperti ini penting agar kita tidak terjebak dalam hubungan yang membuat batas diri terkikis. Perubahan nyata selalu terlihat dari konsistensi tindakan, bukan dari berapa sering seseorang meminta maaf. Ketika perilaku tidak berubah, itu bukan “khilaf”, tapi pilihan. Dan kadang, menjaga jarak adalah bentuk perlindungan diri yang paling sehat. Referensi: • Gottman Institute — Repair Attempts & Relationship Patterns • APA — Manipulative Communication & Pseudo-Remorse Studies • Ford, J. — Emotional Boundaries & Repeated Conflict Dynamics #PseudoRemorse #MaafPalsu #CycleOfApologies #KonsistensiBicara #PerubahanNyata #JanganTerjebak #BatasanSehat #LindungiEnergi #HindariManipulasi #MoveOn

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini