Kesetiaan yang tulus ditandai oleh upaya bertahan, memperbaiki, dan berkomunikasi sebelum memilih pergi. Dalam psikologi hubungan, komitmen bukan sekadar bertahan secara pasif, melainkan keterlibatan aktif untuk memahami, menyesuaikan diri, dan menyelesaikan konflik. Individu yang setia cenderung memprioritaskan perbaikan relasi sebelum mengambil keputusan ekstrem. Secara emosional, proses ini melibatkan regulasi emosi, empati, dan toleransi terhadap ketidaknyamanan. Seseorang berusaha menahan luka, mengelola kekecewaan, serta memberi ruang bagi perubahan, karena keterikatan yang sehat membuat otak mencari solusi, bukan pelarian. Namun, ketika upaya tersebut terus diabaikan, kelelahan emosional dan hilangnya rasa aman menjadi sinyal bahwa batas diri telah terlampaui. Keputusan pergi setelah bertahan lama bukan bentuk ketidaksetiaan, melainkan tindakan protektif terhadap kesehatan mental. Dalam konteks ini, meninggalkan hubungan adalah ekspresi kesadaran diri, bukan kegagalan. Kesetiaan sejati tidak mengharuskan seseorang bertahan dalam luka tanpa akhir, tetapi menghormati batas di mana harga diri dan kesejahteraan psikologis harus dijaga. Referensi: • Rusbult — Investment Model of Commitment • Gottman — Relationship Repair & Conflict Resolution • Gross — Emotion Regulation • APA — Healthy Relationships and Boundaries

Pengalaman mengajarkan ketika sampai pada batas harus meninggalkan dengan izin pamit dan berusaha keluar dari hidupnya . Walau ternyata tetap berharap selalu bahagia. Ketika di masa depan tidak bahagia ikut merasakan kesedihan. Inilah kehidupan!

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini