Melihat adalah proses pasif—mata menangkap informasi tanpa keterlibatan kognitif yang dalam. Sementara observasi melibatkan perhatian sadar, penafsiran, dan keinginan untuk memahami makna di balik apa yang terlihat. Dalam psikologi kognitif, ini berkaitan dengan selective attention, yaitu kemampuan otak memilih informasi yang benar-benar diproses, bukan sekadar lewat. Penelitian menunjukkan bahwa banyak orang “melihat” dunia dalam mode otomatis (automatic processing), sehingga detail emosional, pola perilaku, dan konteks sering terlewat. Observasi, sebaliknya, mengaktifkan top-down processing—otak mengaitkan apa yang dilihat dengan pengalaman, empati, dan pemahaman situasional. Karena itu, dua orang bisa berada di tempat yang sama, melihat hal yang sama, tetapi memahami realitas yang sangat berbeda. Kemampuan ber-observasi membuat seseorang lebih peka, lebih bijak dalam menilai, dan tidak reaktif terhadap permukaan situasi. Ini bukan soal menjadi curiga, melainkan belajar memahami sebelum menyimpulkan. Dalam kehidupan sosial, perbedaan ini menentukan apakah seseorang hanya bereaksi terhadap apa yang tampak, atau benar-benar mengerti apa yang sedang terjadi. Referensi: • American Psychological Association — Attention, Perception, and Cognitive Processing • Goldstein, E. B. — Sensation and Perception • Journal of Cognitive Psychology — Selective Attention & Meaning Making • Kahneman, D. — Thinking, Fast and Slow (Automatic vs Controlled Processing)

Mulai beralih dari sekadar melihat menjadi melakukan observasi.


 

Komentar

Postingan populer dari blog ini