Sebelum menyala, glow stick harus dipatahkan agar dua cairan di dalamnya — hydrogen peroxide dan phenyl oxalate ester — bercampur. Reaksi kimia ini disebut chemiluminescence, yaitu proses menghasilkan cahaya tanpa panas. Setelah dua zat bereaksi, energi yang dihasilkan memindahkan elektron dalam zat pewarna, menciptakan cahaya lembut yang bersinar dalam gelap. Namun, ini bukan hanya tentang benda bercahaya. 🌙 Sering kali, manusia pun harus “retak” terlebih dahulu — melalui tekanan, kehilangan, atau perubahan besar — sebelum menemukan versi dirinya yang paling terang. Seperti glow stick, cahaya sejati sering lahir setelah kita hancur dan menyatu kembali dengan cara baru. 💡 Fakta menarik: warna cahaya glow stick tergantung pada jenis pewarna (fluorophore) yang digunakan. Suhu juga berpengaruh — air panas mempercepat reaksi (lebih terang tapi cepat habis), sedangkan air dingin memperlambatnya (lebih redup tapi tahan lama). 📖 Referensi: American Chemical Society. (2016). Chemiluminescence: The Chemistry of Glow Sticks. National Geographic. (2019). Why glow sticks glow. ✨ Seperti glow stick, mungkin kamu juga harus “patah” dulu untuk menyala — bukan karena lemah, tapi karena cahaya tidak pernah muncul tanpa reaksi.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini