Sering kali yang disebut sebagai kegagalan bukanlah berhentinya proses, melainkan cara kita menafsirkan hasilnya. Dalam psikologi, hal ini berkaitan dengan attribution theory, yaitu kecenderungan manusia memberi makna pada peristiwa berdasarkan sudut pandang internal. Ketika hasil tidak sesuai harapan, otak cepat memberi label “gagal”, meski faktanya proses tersebut tetap membawa pembelajaran dan perubahan. Kesalahan sudut pandang juga dipengaruhi oleh fixed mindset, di mana nilai diri diikat pada hasil akhir. Pola ini membuat seseorang sulit melihat perkembangan kecil, penyesuaian strategi, atau pengalaman emosional yang sebenarnya berkontribusi pada pertumbuhan. Padahal, penelitian menunjukkan bahwa makna subjektif terhadap peristiwa jauh lebih berpengaruh pada kesehatan mental dibanding peristiwa itu sendiri. Ketika sudut pandang digeser melalui cognitive reappraisal, pengalaman yang sama bisa dipahami sebagai fase, bukan kegagalan permanen. Dengan menilai ulang konteks, usaha, dan batas kendali diri, emosi menjadi lebih stabil dan kepercayaan diri tetap terjaga. Bukan realitas yang berubah, tetapi cara otak memaknainya. Referensi: Heider, F. — Attribution Theory Dweck, C. — Mindset Theory Gross, J. — Cognitive Reappraisal & Emotion Regulation APA — Meaning-Making and Psychological Resilience
Komentar
Posting Komentar