Terlalu lama memendam perasaan sering kali tidak terlihat “sedih” atau “marah”, melainkan datar. Dalam psikologi, ini berkaitan dengan emotional suppression, yaitu kebiasaan menahan emosi secara terus-menerus hingga ekspresi luar menjadi tumpul. Bukan karena tidak merasa apa-apa, tetapi karena tubuh belajar untuk tidak menunjukkannya. Penekanan emosi dalam jangka panjang memengaruhi sistem saraf dan respons wajah. Otot-otot ekspresi menjadi kurang responsif karena otak terus mengirim sinyal untuk menahan reaksi emosional. Akibatnya, wajah terlihat kosong, suara terdengar netral, dan reaksi terhadap hal menyenangkan maupun menyedihkan terasa sama. Ini adalah bentuk adaptasi, bukan ketidakpedulian. Namun, emosi yang ditekan tidak menghilang. Ia sering muncul dalam bentuk kelelahan mental, mati rasa emosional, atau ledakan emosi yang tidak terduga. Psikologi memandang kondisi ini sebagai sinyal bahwa emosi membutuhkan ruang aman untuk diproses, bukan terus disimpan. Ekspresi yang datar sering kali bukan tanda kuat, melainkan tanda terlalu lama bertahan sendirian. Referensi: Gross, J. — Emotion Regulation Theory APA — Emotional Suppression and Mental Health Pennebaker, J. — Emotional Inhibition and Health Van der Kolk, B. — The Body Keeps the Score
Belajar untuk mengungkapkan apa yang menjadi perasaan dengan jujur menyeimbangkan kehidupan. Hidup dengan perasaan di dalamnya tidak harus logis.
Komentar
Posting Komentar