Awal 1990-an,
Samsung adalah produsen elektronik yang dikenal murah.
Produk mereka ada di mana-mana.
Tapi jarang dianggap berkualitas.
Pendiri generasi kedua perusahaan itu,
Lee Kun-hee, melihat masalah besar.
Jika Samsung terus bermain di pasar “murah”,
mereka akan selamanya berada di bayang-bayang brand lain.
Jadi dia mengambil langkah yang sangat ekstrem.
Di sebuah pabrik Samsung di Korea, ribuan produk cacat dikumpulkan.
Telepon genggam.
Peralatan elektronik.
Lalu di depan para karyawan,
produk-produk itu dihancurkan dan dibakar.
Nilainya sekitar $50 juta.
Pesannya sederhana:
Lebih baik kehilangan uang hari ini
daripada kehilangan reputasi selamanya.
Sejak saat itu Samsung mulai berubah.
Perusahaan ini berinvestasi besar pada teknologi, desain, dan kualitas produk.
Perubahan itu tidak terjadi dalam semalam.
Tapi perlahan, Samsung membangun reputasi baru.
Hari ini, brand itu menjadi salah satu perusahaan teknologi terbesar di dunia.
Pelajaran bisnisnya sederhana:
Banyak perusahaan gagal bukan karena tidak punya produk.
Tapi karena tak berani mengubah standar mereka sendiri.
Kadang, untuk membangun sesuatu yang lebih besar…
kamu harus berani menghancurkan cara lama terlebih dulu.
—
Samsung adalah produsen elektronik yang dikenal murah.
Produk mereka ada di mana-mana.
Tapi jarang dianggap berkualitas.
Pendiri generasi kedua perusahaan itu,
Lee Kun-hee, melihat masalah besar.
Jika Samsung terus bermain di pasar “murah”,
mereka akan selamanya berada di bayang-bayang brand lain.
Jadi dia mengambil langkah yang sangat ekstrem.
Di sebuah pabrik Samsung di Korea, ribuan produk cacat dikumpulkan.
Telepon genggam.
Peralatan elektronik.
Lalu di depan para karyawan,
produk-produk itu dihancurkan dan dibakar.
Nilainya sekitar $50 juta.
Pesannya sederhana:
Lebih baik kehilangan uang hari ini
daripada kehilangan reputasi selamanya.
Sejak saat itu Samsung mulai berubah.
Perusahaan ini berinvestasi besar pada teknologi, desain, dan kualitas produk.
Perubahan itu tidak terjadi dalam semalam.
Tapi perlahan, Samsung membangun reputasi baru.
Hari ini, brand itu menjadi salah satu perusahaan teknologi terbesar di dunia.
Pelajaran bisnisnya sederhana:
Banyak perusahaan gagal bukan karena tidak punya produk.
Tapi karena tak berani mengubah standar mereka sendiri.
Kadang, untuk membangun sesuatu yang lebih besar…
kamu harus berani menghancurkan cara lama terlebih dulu.
—
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)

Komentar
Posting Komentar