Kahlil Gibran berbicara tentang cinta dari sudut yang tidak posesif. Mencintai bukan berarti mengikat atau menguasai, tapi memberi ruang bagi orang lain untuk memilih. Ketika seseorang harus dipaksa untuk tetap tinggal, itu bukan lagi cinta, melainkan ketakutan kehilangan. Ada keberanian dalam “membiarkan pergi”. Bukan karena tidak peduli, tapi karena sadar bahwa perasaan yang tulus tidak perlu dikunci. Jika seseorang kembali, itu bukan karena keterpaksaan, tapi karena pilihan. Dan pilihan yang datang dari kesadaran jauh lebih kuat daripada yang lahir dari tekanan. Namun kalimat ini juga menyimpan realitas yang tidak selalu nyaman: tidak semua yang kita cintai akan kembali. Di situlah letak kedewasaan menerima bahwa cinta tidak selalu berakhir dengan memiliki. Kadang, cinta hanya tentang memberi yang terbaik, meski akhirnya harus merelakan.
Termasuk dalam pekerjaan.

Komentar
Posting Komentar