Cerdas cermat MPR ini cuma puncak gunung es. Karena banyak dari kita sudah terlalu familiar dengan cerita beginian. Di kompetisi anak-anak di Indonesia, ketidakadilan bukan hal baru. Pencurian usia, pemain titipan, juri yang nggak netral, keputusan yang gengsi dikoreksi, sampai peserta yang akhirnya kalah mental duluan. Dan yang paling bahaya, sering kali anak-anak dipaksa menerima semuanya dengan kalimat: “yaudah, terima aja.” Padahal kompetisi seharusnya mengajarkan sportivitas, bukan membiasakan anak melihat ketidakadilan sebagai hal normal. Karena yang rusak bukan cuma hasil lombanya. Tapi cara anak-anak memandang kejujuran, usaha, dan keadilan setelahnya.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini