Di banyak tim, ada satu pola yang sering dianggap normal. Kalau ada deadline mepet, kasih ke orang yang paling cepat. Kalau ada masalah mendadak, lempar ke orang yang paling bisa diandalkan. Kalau ada rekan kerja yang tidak perform, suruh orang terbaik untuk backup. Awalnya terlihat seperti bentuk kepercayaan. Dan orang-orang terbaik biasanya menerima itu. Mereka ingin membantu. Mereka ingin tim tetap jalan. Mereka punya standar tinggi terhadap dirinya sendiri. Tapi lama-lama, mereka mulai sadar sesuatu. Orang yang perform buruk tidak benar-benar diperbaiki. Orang yang tidak bertanggung jawab tetap dibiarkan. Dan satu-satunya “solusi” adalah terus membebani orang yang paling bisa diandalkan. Di titik itu, masalahnya bukan lagi soal workload. Masalahnya adalah rasa adil. Karena orang hebat tidak burnout hanya karena banyak kerja. Mereka burnout ketika merasa kompetensinya hanya dimanfaatkan, bukan dikembangkan. Mereka burnout ketika excellence berubah menjadi penalti. Dan saat mereka akhirnya berhenti peduli, berhenti volunteer, atau bahkan resign perusahaan sering bilang “padahal dia dulu paling loyal.” Padahal mereka tidak berubah tiba-tiba. Mereka hanya lelah menjadi solusi untuk masalah yang tidak pernah benar-benar diselesaikan.
PT PepsiCo Indonesia resmi mengoperasikan pabrik barunya di Kawasan Industri GIIC, Cikarang, Bekasi, pada 18 Juni 2025. Pabrik ini dibangun di atas lahan seluas 60.000 meter persegi dengan investasi sebesar 200 juta dolar AS atau setara Rp3,3 triliun. Sejak mulai produksi pada Januari 2025, fasilitas ini telah menyerap hampir 400 tenaga kerja dan mengoperasikan tiga lini produksi dengan kapasitas 24.000 ton per tahun. Produk andalan seperti Cheetos, Lays, dan Doritos kini kembali diproduksi secara lokal menggunakan bahan baku dari petani dalam negeri. CEO PepsiCo Indonesia, Asif Mobin, menyatakan bahwa investasi ini mencerminkan komitmen jangka panjang perusahaan di Indonesia. Pemerintah melalui Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza pun menyambut positif kehadiran pabrik ini karena berkontribusi terhadap penguatan industri makanan dan minuman nasional, penciptaan lapangan kerja, serta keberlanjutan ekonomi lokal. Pada triwulan I 2025, industri makanan dan minuman menyumbang 41,15 per...

Komentar
Posting Komentar