Di bawah terik matahari dan di tengah ramainya kendaraan, seorang perempuan lanjut usia tampak berjalan perlahan sambil menjajakan dagangannya. Di punggungnya, tergendong seorang anak kecil yang terus menempel erat.

Namanya Mak Yati, usianya kini sudah 75 tahun. Di usia senjanya, ia masih harus berjuang menempuh belasan kilometer setiap hari demi mencari nafkah. Namun perjuangannya bukan hanya untuk dirinya sendiri, melainkan juga untuk seorang anak perempuan yang telah ia rawat penuh kasih sejak bayi.

“Mak, itu siapa yang digendong?” tanya seseorang.

“Ini anak angkat emak. Dari bayi emak urus… dibuang sama orang tuanya,” jawab Mak Yati pelan.

Anak itu bernama Anisa, kini berusia 6 tahun. Sejak usianya baru lima hari, ia telah ditinggalkan oleh orang tuanya di teras rumah seseorang. Saat itu, Anisa sempat ditawarkan kepada beberapa orang untuk diasuh, tetapi tak ada yang bersedia menerima.

“Mungkin karena mereka tahu kalau Nisa punya kelainan. Kakinya kecil sebelah dan bengkok. Karena nggak ada yang mau, ya sudah… emak saja yang rawat, urus, dan sayangi seperti anak sendiri,” tutur Mak Yati.

Sejak saat itu, hidup Mak Yati tak pernah lagi sendiri. Selama enam tahun, Anisa selalu ada di sisinya—dibawa ke sawah, diajak berjualan, bahkan digendong ke mana pun Mak Yati pergi.

Meski punggungnya harus menahan beban, Mak Yati tak pernah mengeluh. Wajah polos Anisa yang menempel di bahunya justru menjadi kekuatan yang membuat langkahnya terus berjalan.

Dari pagi hingga siang, Mak Yati berkeliling menawarkan dagangan. Namun hari itu, uang yang terkumpul baru Rp8 ribu. Jumlah yang bahkan belum cukup untuk membeli beras.

Meski tubuhnya mulai renta dan langkahnya tertatih, Mak Yati belum mau pulang.

Sebab baginya, selama masih bisa berjalan, ia akan terus berjuang—demi anak kecil yang dulu dibuang, tapi kini menjadi alasan terbesar dalam hidupnya.



 

Komentar

Postingan populer dari blog ini