Banyak manusia mengangkat wajahnya ke langit, berharap menemukan Tuhan di tempat yang paling tinggi dan paling jauh. Mereka membayangkan bahwa kedekatan dengan-Nya harus dicapai melalui perjalanan yang rumit, pemikiran yang sulit, atau pencarian yang melampaui batas dunia. Padahal, sering kali yang jauh hanyalah pandangan kita sendiri.

Tuhan tidak hanya hadir dalam keagungan semesta yang membuat manusia terdiam. Ia juga meninggalkan jejak-Nya pada hal-hal yang sederhana, yang setiap hari berada di sekitar kita. Lihatlah bagaimana engkau memandang ibumu. Jika di dalam tatapan itu ada hormat, kasih sayang, dan rasa syukur, di sanalah hatimu sedang belajar mengenal Tuhan melalui cinta yang paling dekat.

Rasakan pula tanah yang kau pijak. Dari sanalah tubuhmu berasal dan kepadanya pula tubuhmu akan kembali. Menyentuh tanah dengan kesadaran adalah mengingat bahwa manusia tidak diciptakan untuk kesombongan, melainkan untuk kerendahan hati.

Dan ketika engkau memilih memaafkan musuhmu, meski hatimu terluka, saat itulah cahaya ketuhanan bekerja di dalam dirimu. Kebencian mempertahankan luka, sedangkan maaf membuka ruang bagi kehidupan untuk tumbuh kembali.

Mungkin selama ini kita terlalu sibuk mencari Tuhan di kejauhan, hingga lupa bahwa Dia juga hadir dalam cara kita mencintai, bersyukur, dan mengampuni. Sebab jalan menuju Tuhan sering kali bukan perjalanan ke langit, melainkan perjalanan pulang ke kedalaman hati.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini