Dalam kumpulan karya abadi ini, Kahlil Gibran mengajak kita menyelami luka, cinta, kebebasan, dan kebijaksanaan hidup melalui bahasa yang bening sekaligus hening. Sayap-Sayap Patah menghadirkan kisah cinta yang kandas, cinta yang lebih dulu patah sebelum sempat terbang, karena tradisi dan kekuasaan. Sang Nabi dan Taman Sang Nabi menyuguhkan renungan-renungan filosofis tentang cinta, pernikahan, pekerjaan, penderitaan, dan kematian yang disampaikan melalui suara seorang bijak yang berbicara langsung ke hati manusia. Sementara itu, Pasir dan Buih merangkum aforisme-aforisme pendek yang terasa seperti isi kepala sendiri: singkat, jujur, dan kadang menyakitkan karena terlalu benar.

 Sebuah teman sunyi bagi siapa pun yang menatap kegelisahannya sendiri tanpa tergesa mencari pelarian, yang ingin menemui dirinya, lengkap dengan luka yang belum selesai dan doa yang belum menemukan jawabannya.

Cinta itu memberi luka tetapi ada terselip bahagia.



 

Komentar

Postingan populer dari blog ini