Di tengah gemerlap acara pelantikan yang penuh kebanggaan, ada satu sosok sederhana yang diam-diam mencuri perhatian.
Beliau bukan pejabat, bukan orang kaya, bukan pula tamu kehormatan. Beliau hanyalah seorang ayah petani dari pelosok Desa Niti, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur. Dengan pakaian sederhana dan sandal jepit yang menemani langkahnya, beliau menempuh perjalanan yang tidak mudah.
Berjalan kaki, berganti angkutan umum, menyeberangi lautan dengan kapal, lalu kembali berdesakan di bus antarkota menuju Bandung. Bukan untuk berlibur. Bukan untuk mencari pekerjaan. Beliau datang hanya untuk satu tujuan: menyaksikan putranya dilantik dan meraih cita-cita yang selama ini mereka perjuangkan bersama.
Mungkin beliau tidak memiliki banyak harta untuk diwariskan. Tidak ada mobil mewah, tidak ada tabungan miliaran rupiah. Namun ada sesuatu yang jauh lebih berharga yang ia berikan kepada anaknya: kerja keras, pengorbanan, dan doa yang tak pernah putus setiap malam. Tak seorang pun tahu berapa banyak keringat yang jatuh di ladang. Tak ada yang menghitung berapa kali beliau menahan lelah, lapar, dan kecewa demi memastikan anaknya tetap bisa bermimpi. Dan hari itu, semua perjuangan itu seperti terbayar lunas.
Di balik seragam kebanggaan sang putra, ada tangan kasar seorang ayah yang telah bekerja seumur hidup. Di balik keberhasilan seorang anak, ada cinta yang tidak pernah meminta balasan.
Beliau bukan pejabat, bukan orang kaya, bukan pula tamu kehormatan. Beliau hanyalah seorang ayah petani dari pelosok Desa Niti, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur. Dengan pakaian sederhana dan sandal jepit yang menemani langkahnya, beliau menempuh perjalanan yang tidak mudah.
Berjalan kaki, berganti angkutan umum, menyeberangi lautan dengan kapal, lalu kembali berdesakan di bus antarkota menuju Bandung. Bukan untuk berlibur. Bukan untuk mencari pekerjaan. Beliau datang hanya untuk satu tujuan: menyaksikan putranya dilantik dan meraih cita-cita yang selama ini mereka perjuangkan bersama.
Mungkin beliau tidak memiliki banyak harta untuk diwariskan. Tidak ada mobil mewah, tidak ada tabungan miliaran rupiah. Namun ada sesuatu yang jauh lebih berharga yang ia berikan kepada anaknya: kerja keras, pengorbanan, dan doa yang tak pernah putus setiap malam. Tak seorang pun tahu berapa banyak keringat yang jatuh di ladang. Tak ada yang menghitung berapa kali beliau menahan lelah, lapar, dan kecewa demi memastikan anaknya tetap bisa bermimpi. Dan hari itu, semua perjuangan itu seperti terbayar lunas.
Di balik seragam kebanggaan sang putra, ada tangan kasar seorang ayah yang telah bekerja seumur hidup. Di balik keberhasilan seorang anak, ada cinta yang tidak pernah meminta balasan.

Komentar
Posting Komentar