Manusia sering lupa bahwa banyak hal yang dikejar dengan mati matian sebenarnya hanya singgah sebentar. Jabatan berubah tangan, uang berpindah pemilik, pujian cepat berganti arah, dan apa yang hari ini terasa begitu penting bisa saja besok kehilangan maknanya. Namun anehnya, manusia tetap rela menghabiskan tenaga, harga diri, bahkan ketenangan batin hanya untuk mengejar hal hal yang sifatnya sementara. Seolah nilai diri ditentukan oleh seberapa banyak dunia mau memberi.
Kalimat ini seperti mengingatkan bahwa keberadaan manusia tidak serendah itu. Menjadi “tamu terhormat” bukan berarti hidup tanpa kekurangan atau selalu dimuliakan, tetapi menyadari bahwa diri memiliki martabat yang tidak seharusnya ditukar dengan pengakuan, validasi, atau hal hal yang mudah hilang. Ada perbedaan antara berjuang untuk hidup yang lebih baik dan menggantungkan seluruh harga diri pada apa yang dimiliki dunia.
Mungkin yang paling melelahkan bukan kehilangan sesuatu, tetapi ketika seseorang merasa dirinya ikut hilang bersama hal yang pergi. Padahal dunia memang tidak pernah menjanjikan sesuatu untuk menetap terlalu lama. Karena pada akhirnya, yang membuat manusia jatuh bukan sedikitnya yang dimiliki, melainkan ketika seluruh nilai dirinya ikut dititipkan pada sesuatu yang sejak awal memang tidak pernah benar benar bisa dimiliki.
Kalimat ini seperti mengingatkan bahwa keberadaan manusia tidak serendah itu. Menjadi “tamu terhormat” bukan berarti hidup tanpa kekurangan atau selalu dimuliakan, tetapi menyadari bahwa diri memiliki martabat yang tidak seharusnya ditukar dengan pengakuan, validasi, atau hal hal yang mudah hilang. Ada perbedaan antara berjuang untuk hidup yang lebih baik dan menggantungkan seluruh harga diri pada apa yang dimiliki dunia.
Mungkin yang paling melelahkan bukan kehilangan sesuatu, tetapi ketika seseorang merasa dirinya ikut hilang bersama hal yang pergi. Padahal dunia memang tidak pernah menjanjikan sesuatu untuk menetap terlalu lama. Karena pada akhirnya, yang membuat manusia jatuh bukan sedikitnya yang dimiliki, melainkan ketika seluruh nilai dirinya ikut dititipkan pada sesuatu yang sejak awal memang tidak pernah benar benar bisa dimiliki.

Komentar
Posting Komentar