Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta memusnahkan 50 unit becak motor (bentor) sekaligus menyerahkan bantuan 50 becak listrik kepada pengemudi becak Malioboro, Rabu (3/6). Sugiyo Pranoto (65) menjadi salah satu penerima bantuan tersebut. Ia telah menjadi pengemudi becak sejak tahun 1981. Saat menyaksikan bentornya dihancurkan, ia mengaku sedih hingga meneteskan air mata. Meski begitu, dirinya juga gembira karena mendapatkan becak listrik sebagai ganti. “Sedih ya, tapi suka sekali, dapat yang lebih baik,” kata Sugiyo ke Pandangan Jogja, Rabu (3/6). Baginya, becak listrik memberikan harapan baru di usia yang sudah tak lagi muda. Selain lebih ringan, kendaraan listrik dinilai dapat memangkas biaya operasional karena tidak lagi bergantung pada bensin. Selama ini, ia menghabiskan sekitar satu liter bensin per hari untuk menarik bentornya. “Lebih murah. Sudah untung nggak beli bensin karena mahal. Sekarang cuma pakai listrik saja,” sambungnya. Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menyebut penghancuran bentor bertujuan mempercepat transisi menuju becak listrik, serta agar tidak muncul armada baru. “Begitu menerima becak listrik, becak motornya dihancurkan. Harapan saya tidak ada orang yang menambah becak baru dalam bentuk konvensional,” kata Hasto. Menurut Hasto, hingga saat ini sudah sekitar 260 becak listrik yang beroperasi di Kota Yogyakarta. Pemkot menargetkan sekitar 900 bentor yang masih beroperasi akan diganti becak listrik dalam dua tahun ke depan.

Sebagaimana berpisah dari pekerjaan lama ke pekerjaan baru entah rotasi ataupun resign, tetap ada kesedihan saat meninggalkan yang lama.



 

Komentar