Banyak orang mengenal Muhammad sebagai penjual roti yang belakangan mencuri perhatian publik.
Namun saat berbincang dengan DAAI TV, ada banyak cerita yang belum banyak diketahui orang.
Mulai dari alasan di balik keputusannya berhenti sekolah, perjuangan yang ia jalani setiap hari, hingga mimpi sederhana yang ingin ia wujudkan untuk sang ibu.
Setiap hari Muhammad berangkat sekitar pukul 05.30 pagi membawa sekitar 15 roti untuk dijual di Stasiun Sudirman. Sore harinya, ia kembali berjualan lalu menggambar hingga malam.
Di balik hari-harinya yang padat, tersimpan keputusan besar yang lahir dari berbagai pertimbangan—keputusan yang perlahan mengubah jalan hidupnya.
Keputusan itu tidak lahir karena satu alasan. Nilainya belum cukup untuk masuk sekolah negeri. Jika melanjutkan SMA, waktu untuk membantu ibunya mencari nafkah juga akan semakin sedikit.
Pengalaman perundungan semasa SMP pun menjadi bagian dari perjalanan yang membentuk dirinya. Meski harus menunda mimpinya sendiri, ia memilih mendahulukan sang ibu.
Muhammad mengaku sempat iri melihat teman-temannya tetap bersekolah. Namun, seiring waktu ia belajar menerima keadaan dan terus melangkah.
Kini, selain berjualan roti, ia juga membuka jasa ilustrasi yang perlahan menjadi sumber penghasilan kedua.
Saat ditanya apa yang paling ingin diwujudkan jika kehidupannya membaik, jawabannya sederhana, "Saya mau umrah bareng Ibu saya."
Keiklasan yang bisa membuat perubahan di masa depan.
.webp)
.webp)
.webp)

Komentar
Posting Komentar