Pada tahun 1981, tak lama setelah meninggalkan Gedung Putih, Jimmy Carter mengunjungi sebuah perguruan tinggi kecil di dekat Osaka, Jepang, di mana ia menghadapi audiens yang terdiri dari mahasiswa, orang tua, dan profesor yang gugup. Berharap untuk meredakan ketegangan, Carter memutuskan untuk membuka pidatonya dengan lelucon terpendek yang ia ketahui. Ia menyampaikan kalimat itu dalam bahasa Inggris, berhenti sejenak untuk penerjemahnya—dan menyaksikan dengan takjub ketika seluruh hadirin tertawa terbahak-bahak. Carter kemudian mengenang bahwa ia belum pernah menerima respons yang lebih baik terhadap sebuah lelucon dalam hidupnya. Terkesan oleh apa yang tampak seperti terjemahan yang brilian, ia mendekati penerjemah setelah pidato dan bertanya bagaimana ia berhasil mempertahankan humor tersebut dengan sempurna dalam bahasa Jepang. Penerjemah awalnya menghindari menjawab, tetapi Carter terus mendesaknya untuk memberikan penjelasan. Akhirnya, penerjemah yang malu itu mengakui bahwa ia sama sekali tidak menerjemahkan lelucon tersebut. Sebaliknya, ia hanya mengatakan kepada hadirin, “Presiden Carter menceritakan sebuah kisah lucu. Semuanya tertawa.” Pengakuan itu mengubah jalan pintas terjemahan biasa menjadi salah satu kisah Carter yang paling berkesan—dan pengingat yang menggelikan bahwa terkadang rahasia lelucon yang sukses kurang berkaitan dengan inti leluconnya daripada mengetahui persis apa yang diharapkan dari audiens.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini