Beda Sikap Saat Krisis 1998 Dulu, Begini Gaya Komunikasi Orang Dulu Jika melihat kembali rekaman saat krisis ekonomi 1998, ada satu hal yang menarik selain peristiwanya: cara orang berbicara. Pilihan katanya cenderung lebih terukur. Nada bicaranya lebih tenang. Bahkan ketika menyampaikan keluhan, banyak yang tetap berusaha menjaga sopan santun dan menyusun kalimat secara runtut. Lalu, mengapa terasa berbeda dengan sekarang? Salah satu jawabannya ada pada perubahan ekologi media. Pada 1998, ruang komunikasi didominasi televisi, radio, dan surat kabar. Kesempatan untuk berbicara di ruang publik terbatas, sehingga orang cenderung mempertimbangkan kata-kata sebelum disampaikan. Proses komunikasi berlangsung lebih lambat, tetapi juga lebih reflektif. Hari ini, media sosial mengubah ritme itu. Setiap orang dapat menyampaikan pendapat dalam hitungan detik kepada ribuan orang. Kecepatan menjadi nilai utama. Akibatnya, komunikasi semakin langsung, spontan, dan sering kali lebih emosional daripada reflektif. Artinya, perbedaannya bukan semata karena orang dulu lebih santun atau orang sekarang lebih kasar. Cara kita berkomunikasi ikut berubah karena lingkungan komunikasinya juga berubah. Seperti yang dijelaskan Marshall McLuhan, media tidak hanya menyampaikan pesan, tetapi juga membentuk cara manusia berpikir, berinteraksi, dan merespons dunia di sekitarnya. Mungkin itu sebabnya, ketika menonton kembali rekaman 1998, yang terasa berbeda bukan hanya suasana zamannya, tetapi juga cara masyarakat membangun komunikasi di tengah krisis.
Golden Elephant Chemical (GESC), perusahaan kimia terkemuka asal China, resmi membangun pabrik pertamanya di luar negeri di Java Integrated Industrial and Ports Estate (JIIPE), Gresik, Jawa Timur. Dengan investasi senilai 4,2 miliar yuan atau sekitar Rp10,08 triliun, pabrik seluas lebih dari 20 hektare ini akan memproduksi melamin, asam nitrat, dan amonium nitrat dalam tahap pertama, dilanjutkan dengan pembangunan fasilitas amonia sintetis dan urea berkapasitas besar di tahap kedua. Ekspansi ini menjadikan Indonesia sebagai pusat regional baru GESC di Asia, memanfaatkan infrastruktur kelas dunia dan integrasi industri-pelabuhan di JIIPE. Kehadiran GESC melengkapi ekosistem industri strategis di JIIPE bersama Freeport Indonesia, Hailiang, dan Xinyi Glass, memperkuat posisi kawasan ini sebagai episentrum pertumbuhan industri berbasis hilirisasi dan transisi energi hijau di Indonesia. Kabar baik untuk investasi di Indonesia! Djuned Wikanto wikantodjuned@gmail.com
Komentar
Posting Komentar