Keluarga Jawa adalah sosok yang memegang prinsip ""sejauh burung terbang maka ia akan kembali pula ke sarang"", sehingga kita akan menemukan rumah berkumpul yang disebut ""tabon"". Hierarki keluarga jawa juga diatur dengan banyak norma, bahkan pada aspek kebahasaan. Seorang yang muda tidak boleh memanggil dengan bahasa 'ngoko' pada yang dipertuakan, melainkan harus dengan bahasa 'krama inggil'.

Berdasarkan pengalaman saya, figur ayah yang "ditakuti" sudah mulai bergeser di zaman saya. Untuk penggunaan bahasa kromo di daerah Solo saat saya menjalani hidup bersekolah sampai sekolah menengah atas masih umum dipraktekkan. Setelah itu saya tidak mengikuti lagi. Bagaimana pendapat teman teman?


 

Komentar

Postingan populer dari blog ini