🍭 Ternyata Permen Kapas Diciptakan Dokter Gigi! Kelihatannya cuma gula yang diputar-putar sampai jadi gumpalan seperti kapas. Tapi ternyata, sejarah permen kapas justru punya hubungan dengan dunia kedokteran gigi. 😳 Pada 1897, dokter gigi asal Nashville, William J. Morrison, bersama pembuat manisan John C. Wharton, mengajukan paten untuk mesin yang bisa mengubah gula menjadi serat-serat tipis seperti benang. Paten mereka kemudian resmi diberikan pada 1899. Cara kerjanya menjadi dasar mesin permen kapas modern. Gula dipanaskan hingga meleleh, lalu kepala pemutar berputar sangat cepat. Gula cair terdorong keluar melalui lubang-lubang kecil dan langsung mendingin menjadi serat gula yang sangat tipis. Mesin yang dijelaskan dalam sumber sejarah bahkan berputar sekitar 3.400 putaran per menit. Mesin ini kemudian diperkenalkan kepada publik secara besar-besaran pada St. Louis World’s Fair 1904. Morrison dan Wharton menjual permen tersebut dalam kotak kayu dengan nama “fairy floss” dan berhasil menjual sekitar 68.655 porsi selama pameran yang berlangsung tujuh bulan itu. Menariknya, nama “cotton candy” baru digunakan kemudian, pada 1920-an, dan dikaitkan dengan Josef Lascaux, seorang dokter gigi yang juga menjual permen. Jadi, kalau selama ini permen kapas terasa seperti jajanan sederhana di pasar malam, ternyata teknologi di baliknya sudah berusia lebih dari 120 tahun. Dan yang bikin ceritanya makin unik: salah satu tokoh penting di baliknya justru seorang dokter gigi.
Golden Elephant Chemical (GESC), perusahaan kimia terkemuka asal China, resmi membangun pabrik pertamanya di luar negeri di Java Integrated Industrial and Ports Estate (JIIPE), Gresik, Jawa Timur. Dengan investasi senilai 4,2 miliar yuan atau sekitar Rp10,08 triliun, pabrik seluas lebih dari 20 hektare ini akan memproduksi melamin, asam nitrat, dan amonium nitrat dalam tahap pertama, dilanjutkan dengan pembangunan fasilitas amonia sintetis dan urea berkapasitas besar di tahap kedua. Ekspansi ini menjadikan Indonesia sebagai pusat regional baru GESC di Asia, memanfaatkan infrastruktur kelas dunia dan integrasi industri-pelabuhan di JIIPE. Kehadiran GESC melengkapi ekosistem industri strategis di JIIPE bersama Freeport Indonesia, Hailiang, dan Xinyi Glass, memperkuat posisi kawasan ini sebagai episentrum pertumbuhan industri berbasis hilirisasi dan transisi energi hijau di Indonesia. Kabar baik untuk investasi di Indonesia! Djuned Wikanto wikantodjuned@gmail.com

Komentar
Posting Komentar