Manusia sanggup menanggung penderitaan yang paling kejam, tetapi hanya sedikit yang sanggup berdiri di hadapan dirinya sendiri tanpa mencari alasan untuk membenarkan kesalahan. Sebab, kebenaran sering kali lebih menyakitkan daripada hukuman, dan kebohongan terasa begitu menenangkan ketika hati tak lagi memiliki keberanian untuk mengakui dosa-dosanya sendiri. Pada mulanya, seseorang berbohong demi menyelamatkan harga dirinya. Ia memutarbalikkan kenyataan, menyalahkan keadaan, dan menuduh dunia sebagai penyebab kehancurannya. Namun, perlahan-lahan, kebohongan itu tumbuh menjadi keyakinan. Ia tidak lagi sekadar menipu orang lain, melainkan membangun penjara di dalam pikirannya sendiri, lalu menyebut penjara itu sebagai kebebasan. Betapa mengerikannya nasib manusia yang kehilangan kemampuan untuk meragukan dirinya sendiri. Sebab, selama seseorang masih mampu bertanya apakah dirinya bersalah, masih ada secercah harapan bagi jiwanya. Tetapi ketika ia menganggap setiap kebohongannya sebagai kebenaran, ia akan memandang kejujuran sebagai musuh dan menganggap siapa pun yang mengungkap kesalahannya sebagai pengkhianat. Dan bukankah demikian cara manusia perlahan-lahan menghancurkan dirinya? Bukan melalui satu dosa besar yang menggemparkan dunia, melainkan melalui kebohongan-kebohongan kecil yang terus dimaafkannya sendiri. Hingga suatu hari, ia berdiri di antara reruntuhan kehidupannya, tidak lagi mengetahui bagian mana dari dirinya yang sungguh-sungguh nyata dan bagian mana yang sekadar diciptakan untuk menutupi rasa malu. Janganlah takut pada kebenaran, sekalipun ia datang membawa penghinaan, kehilangan, dan air mata. Lebih baik menderita karena mengetahui siapa dirimu yang sebenarnya daripada hidup dalam kebahagiaan palsu yang dibangun di atas penipuan. Sebab, manusia yang masih berani mengakui keburukannya belum sepenuhnya kehilangan jiwanya; tetapi manusia yang telah jatuh cinta pada kebohongannya sendiri mungkin tak akan pernah menyadari bahwa dialah orang pertama yang telah mengkhianati dirinya.
Prinsip dalam hansei kai ataupun ditemukan dalam pepatah Jawa:
"Mulat sarira hangrasa wani"

Komentar
Posting Komentar