Orang yang benar-benar cerdas, barangkali, adalah orang yang masih sanggup berdiri di hadapan cermin jiwanya sendiri dan mengakui betapa sedikit yang sesungguhnya ia pahami. Sebab, semakin jauh seseorang menyelami kehidupan, semakin banyak pula jurang ketidaktahuan yang ia temukan di dalam dirinya. Ada sesuatu yang mengerikan dari manusia yang merasa dirinya selalu benar. Ia membangun singgasana dari pengetahuannya sendiri, lalu memandang rendah mereka yang duduk di tanah. Ia lupa bahwa pikiran yang berhenti meragukan dirinya sendiri perlahan-lahan berubah menjadi penjara yang paling sulit dibebaskan. Menyebut diri sendiri bodoh bukanlah penghinaan terhadap kecerdasan, melainkan pengakuan bahwa akal manusia memiliki batas. Hanya orang yang berani meruntuhkan kesombongannya sendiri yang dapat melihat betapa rapuhnya keyakinan yang selama ini ia pertahankan. Dan terkadang, satu pengakuan kecil tentang kebodohan lebih berharga daripada seribu perdebatan yang dimenangkan dengan kesombongan. Betapa menyedihkan melihat seseorang menghabiskan seluruh hidupnya untuk membuktikan bahwa ia lebih pintar daripada orang lain, tetapi tak pernah meluangkan satu malam pun untuk bertanya apakah dirinya telah menjadi manusia yang lebih bijaksana. Ia mengumpulkan jawaban seperti seorang saudagar mengumpulkan kekayaan, tanpa menyadari bahwa pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab justru merupakan harta paling berharga bagi pikirannya. Jika sesekali kau menyebut dirimu bodoh, janganlah terburu-buru merasa hina. Mungkin pada saat itulah kau sedang tumbuh melampaui dirimu yang kemarin. Sebab, kebodohan yang disadari dapat menjadi permulaan kebijaksanaan, sedangkan kecerdasan yang diselimuti kesombongan sering kali menjadi awal dari kehancuran seseorang. Dan manusia yang paling berbahaya bukanlah mereka yang tidak mengetahui apa-apa, melainkan mereka yang tidak mengetahui apa-apa, tetapi telah meyakinkan dirinya bahwa ia mengetahui segalanya. 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini