Betapa rapuhnya manusia yang menggantungkan harga dirinya pada lidah orang lain. Hari ini ia merasa berharga karena dipuji, esok ia merasa hina karena dicela. Ia membiarkan orang-orang di sekelilingnya menentukan siapa dirinya, seolah-olah nilai seorang manusia dapat berubah hanya karena pendapat yang datang dan pergi. Sungguh menyedihkan, ketika seseorang lebih mengenal suara dunia daripada suara hatinya sendiri. Namun, manusia yang sungguh-sungguh mengenal dirinya tidak akan mudah mabuk oleh sanjungan ataupun hancur oleh penghinaan. Ia tahu bahwa pujian tidak selalu lahir dari ketulusan, sebagaimana celaan tidak selalu berasal dari kebenaran. Sebab, tidak semua yang mengangkat kita bermaksud memuliakan, dan tidak semua yang menjatuhkan kita bermaksud mencelakakan. Ada ketenangan yang hanya dimiliki oleh mereka yang tidak lagi sibuk membuktikan dirinya kepada dunia. Mereka tidak merasa lebih tinggi ketika dipuja, juga tidak merasa lebih rendah ketika direndahkan. Mereka memahami bahwa kehormatan bukanlah sesuatu yang diberikan oleh kerumunan, melainkan sesuatu yang tumbuh dari kesadaran dan keteguhan batin. Betapa melelahkannya hidup sebagai tawanan penilaian manusia. Seseorang dapat menghabiskan seluruh usianya untuk menyenangkan orang lain, mengubah wajah, pendirian, bahkan prinsip hidupnya, hanya agar tidak kehilangan penerimaan. Pada akhirnya, ia mungkin dicintai oleh banyak orang, tetapi kehilangan dirinya sendiri. Barangkali, keunggulan manusia justru terletak pada kemampuannya untuk tetap utuh di tengah dunia yang terus berubah dalam menilainya. Sebab, orang yang telah berdamai dengan dirinya tidak membutuhkan pujian untuk merasa berharga, ataupun penghinaan untuk belajar meragukan dirinya. Ia tetap berjalan, bukan untuk menjadi lebih tinggi daripada orang lain, melainkan agar tidak pernah lebih rendah daripada nuraninya sendiri. 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini